Taher, Marisyah (2025) Keabsahan Terhadap Sertifikat Hak Milik Pasca Ditetapkannya Sebagai Kawasan Hutan Di Desa Paya Rumbai Kecamatan Seberida Kabupaten Indragiri Hulu. Skripsi thesis, Universitas Tarumanagara.

[thumbnail of Halaman Depan_Marisyah Taher_205210186.pdf] Text
Halaman Depan_Marisyah Taher_205210186.pdf

Download (1MB)
[thumbnail of Bab isi_Marisyah Taher_205210186.pdf] Text
Bab isi_Marisyah Taher_205210186.pdf
Restricted to Registered users only

Download (19MB)
[thumbnail of Daftar Pustaka_Marisyah Taher_205210186.pdf] Text
Daftar Pustaka_Marisyah Taher_205210186.pdf

Download (824kB)
[thumbnail of Lampiran_Marisyah Taher_205210186.pdf] Text
Lampiran_Marisyah Taher_205210186.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)

Abstract

Hutan merupakan salah satu aset alam yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia, karena memberikan manfaat yang beragam bagi kehidupan manusia, baik secara ekologis, ekonomi, maupun sosial. Sebagai sumber daya alam yang strategis, pengelolaannya diatur dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan bahwa "Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat." Namun, konflik sering kali muncul terkait pengelolaan kawasan hutan, seperti yang terjadi di Desa Paya Rumbai, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu. Konflik ini bermula ketika Badan Pertanahan Nasional (BPN) enggan memproses sertifikat hak milik yang diterbitkan sebelumnya, karena tanah tersebut telah masuk dalam kawasan hutan, sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2018 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Riau Tahun 2018-2038. Padahal, masyarakat telah menerima sertifikat tersebut secara sah sebelum wilayah itu ditetapkan sebagai kawasan hutan. Perubahan tata ruang ini menimbulkan ketidakpastian hukum bagi masyarakat, yang kehilangan hak atas tanah mereka. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berfokus pada dua permasalahan utama: bagaimana kawasan hutan dapat ditetapkan setelah adanya sertifikat hak milik, dan bagaimana keabsahan sertifikat hak milik masyarakat setelah tanah tersebut ditetapkan sebagai kawasan hutan. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah normatif dan empiris. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara BPN dan KLHK. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam konflik tata ruang ini dan memberikan solusi yang adil bagi pihak-pihak yang terdampak.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Pembimbing: Dr. Gunawan Djajaputra, S.H., M.H
Uncontrolled Keywords: Kawasan Hutan, Konflik Tata Ruang, Sertifikat Hak Milik
Subjects: Skripsi/Tugas Akhir
Skripsi/Tugas Akhir > Fakultas Hukum
Divisions: Fakultas Hukum > Ilmu Hukum
Depositing User: FH Perpus
Date Deposited: 02 Jul 2025 03:34
Last Modified: 02 Jul 2025 03:34
URI: https://repotest.untar.ac.id/id/eprint/47531

Actions (login required)

View Item View Item